Tuesday, October 22, 2013

Apa Itu Musik indonesia ?

Oleh: Ilyas Agusta

APA ITU MUSIK INDONESIA ?


Suatu hari di salah satu perpustakaan di Bandung, saya membaca sebuah majalah musik yang salah satu halamannya berisi sebuah artikel dengan judul “Keroncong adalah musik asli Indonesia”. Selesai membaca tulisan tersebut, saya langsung teringat beberapa hari sebelumnya saya menemukan artikel yang isinya menjelaskan bahwa musik dangdut adalah musik asli Indonesia. Kemudian saya membaca buku lainnya, dimana isinya terdapat perdebatan tentang keroncong sebagai musik asli Indonesia, serta lagu-lagu pop ataupun kata pop dengan maksud lagu populer. Halaman-halaman berikutnya malah berisi tentang perdebatan tentang musik nasional, bagaimanakah rupa atau bentuk musik nasional, atau seperti apakah musik Indonesia. Jadi, apa itu musik Indonesia?


Sedikit Menengok Kebelakang

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi perubahan besar dalam tatanan kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia. Ketika itu muncul gagasan dari beberapa cendekiawan maupun seniman mengenai kultur musik Indonesia. Gagasan mengenai budaya musik tersebut berasal dari ide Ki Hadjar Dewantara tentang budaya nasional Indonesia; budaya nasional adalah puncak-puncak dari kebudayaan daerah (Parto, 1992:th). Gagasan itu tidak lain mengenai permasalahan mencari bentuk representasi musik sebagai musik nasional (Raden, 1997:th)

Tahun 1950-an, di Surakarta dan Bandung diadakan suatu kongres budaya yang isinya menyinggung tentang bentuk musik Indonesia. Hal yang disepakati bersama ketika itu adalah menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam musik nasional. Setelah disepakati demikian, muncul pertanyaan lainnya yaitu apakah musik yang mengiringnya yang ternyata jelas-jelas musik berasal dari luar dapat dikatakan sebagai musik nasional?


Mencari Jawaban Memuaskan

Tahun 1950-an sampai 1970-an adalah tahun-tahun yang menentukan bagi perkembangan musik Indonesia (Harjana, 2001:th). Musik pentatonis dan diatonis sebagai akibat pengaruh atau benturan dari budaya luar. Bisa saja mengatakan bahwa identitas musik Indonesia makin terlihat di tahun 1970-an, tapi terkadang hingga sekarang masih terjadi perdebatan yang tujuannya hanya mencari jawaban memuaskan tentang musik apa yang benar-benar dikatakan sebagai musik Indonesia atau apa saja musik asli Indonesia. Tidak sedikit orang yang mempermasalahkan hal tersebut hanya untuk kepuasan semata.

Saya menemukan jawaban paling singkat dari bentuk pertanyaan diatas yaitu musik Indonesia adalah musik gado-gado (Sylado, 1992: 235-239). Saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Remy Sylado bahwa musik Indonesia adalah musik gado-gado. Terdengar seperti sebuah lelucon, tapi begitulah jawaban yang lebih pantas.
http://ilyas-agusta.blogspot.com/2013/10/indravox.html

Indravox

Oleh: Ilyas Agusta
Indravox ?


Tidak banyak masyarakat sekarang yang pernah mendengar tentang label Indravox. Saya sendiri masih menyimpan banyak pertanyaan tentangnya. Tahun 2011 dengan niat hanya 'iseng doang', saya mencari data tertulis yang berkaitan dengan Indravox dan berusaha bertemu dengan beberapa pihak yang mungkin mengerti tentang label Indravox. Hal yang mengecewakan adalah ketika saya mengirim beberapa pesan di salah satu situs jejaring sosial kepada beberapa pihak yang saya yakini paham tentang Indravox, tapi tidak mereka balas. Sehingga timbul suatu kesan yang ganjil tentang Indravox. Dalam hal ini, mari kita saling berbagi informasi yang tak lain untuk menambah sebuah pengetahuan.




Sekilas tentang Indravox
Philip Yampolsky (1987:35) mengatakan bahwa label Indravox pada RRI muncul sekitar awal 1950-an. Yampolsky sendiri dalam penelitiannya di Surakarta tidak menemukan tahun yang pasti tentang lahirnya Indravox. Desember 1955 di Surakarta, pabrik piring hitam (Lokananta) ketika belum diresmikan sudah berhasil mencetak piringan hitam yang sempurna dan diberi label Indravox, yakni sebagai label rekaman pertama di bawah kendali RRI.
Tahun 1958, pihak Lokananta tidak menggunakan Indravox sebagai label, akan tetapi menggunakan nama ‘Lokananta’ itu sendiri sebagai sebuah label. Pihak Lokananta sering mengatakan hal tersebut dengan istilah penggantian.
Beberapa sumber menjelaskan bahwa hingga tahun 1958 Indravox masih tetap difungsikan. Saya rasa (kemungkinan) Indravox hanya bertahan hingga tahun 1959. Alasan saya karena melihat dari beberapa piringan hitam Indravox yang saya lihat diantaranya dengan format 10”, 78 rpm yang mana format tersebut masih sering digunakan RRI sebelum tahun 1960 dan jarang digunakan di tahun 1960-an. Selain itu, saya tidak pernah melihat Indravox dengan format 33 1/3 rpm (long play) sebagai format yang sering digunakan RRI sejak tahun 1959. Apabila ternyata ditemukan Indravox dengan format 33 1/3 rpm, kemungkinan Indravox sendiri masih bertahan di sekitar tahun 1960-an.
Philip Yampolsky menjelaskan bahwa label Indravox dan label Lokananta dikendalikan oleh RRI dan keduanya secara administratif terpisah. Ketika penggantian, Indravox tampak hilang atau lenyap dengan alasan yang kurang jelas (Yampolsky, 1987:1).


Asal Kata Indravox
            Pertengahan 1950-an, R. Maladi yang ketika itu sebagai Direktur Jenderal RRI Jakarta menemui Presiden Soekarno, memberikan usulan kata-Indravox sebagai nama pabrik piring hitam di Surakarta. Usulan tersebut tidak disetujui oleh Presiden Soekarno. Kemudian pada tahun 1956, R. Maladi memberi nama ‘Lokananta’ untuk pabrik piring hitam, lalu usulan tersebut diterima oleh Presiden Soekarno. Hal itu menimbulkan suatu pertanyaan tentang apa alasan Presiden Soekarno tidak setuju dengan nama ‘Indravox’. Seperti yang diterangkan pada tahun 2010 oleh Imam Muhadi sebagai mantan Staf Direktur Utama dan Humas Lokananta kepada majalah Rolling Stones Indonesia, “Sayangnya nama Indra Vox ini ditolak oleh Presiden Soekarno, soalnya menurut beliau ndak jelas” (Rolling Stones Indonesia, No.61 : 2010). 
Beberapa sumber mengatakan bahwa singkatan Indravox adalah indra singkatan dari Indonesia Raya sedangkan vox merupakan bahasa latin yang artinya suara(?). Saya mendapatkan sumber yang menarik, dikatakan bahwa Indravox memiliki arti Indonesia Raya Voice. Kata voice diambil dari kata voice yang berasal dari VOA (Voice of America). Pada saat itu radio VOA dikenal hampir seluruh dunia yang siarannya dapat ditangkap di Indonesia dengan sangat bagus (Isnu Edhi Wijaya dalam multiply.com/isnu’s site: 2010, diakses 8 Januari 2010).
Mendengar kata VOA bila dihubungkan dengan ketidak-jelasan keberadaan label Indravox di akhir 1950-an, kemungkinan besar berhubungan dengan idealis Presiden Soekarno yang ketika itu pernah menyatakan anti-budaya Amerika, dimana ketika itu segala sesuatu yang berbau budaya ke-Amerikaan harus dijauhkan. Jadi, apakah lenyapnya Indravox berhubungan dengan hal tersebut?


Rekaman-Rekaman
            September 1986, Ernst Heins menceritakan kepada Yampolsky (1987:35) bahwa seorang ethnomusicologist Bernard Ijzerdraat mendatangi Indonesia di tahun 1954-1955, dia mengisyaratkan tentang genre yang pernah direkam Indravox dengan format 78 rpm, diantaranya musik tradisi daerah Bali, Sumatera, Sulawesi, Timor, dan Jawa Tengah. Ketika itu, Ijzerdraat hanya menyebutkan satu genre musik tradisi dari daerah Jawa Tengah yaitu Santiswaran.
Bila diperhatikan apa yang dilakukan Lokananta merupakan kebalikan dari Indravox, dimana musik tradisi Jawa Tengah dan Jawa Timur sangat mendominasi. Beberapa musik tradisi dari informasi Ijzerdraat diantaranya:
§     Bali                :  Angklung Gegrantangan(?), Janger, Mocapat, Lagu Kanak-Kanak,
                                               Joged Bumbung, Semar Pegulingan, Genggong, Gender Wayang,
                                               Orkes Suling.
§     Sumatera      :  Gambang Sosa, Gondang Sabangunan, Gondang Hasapi, Gondang,
                               Tale, Kesenian Pesisir, Orkes Melayu Modern, Saluang, Nalam,
                                Indang, Randai, Puput, Talempong.
§     Sulawesi        :  Maengket, Kulintang, Orkes Makasar.
§     Timor             :  Sasando.
§     Jawa Tengah:  Santiswaran.

Saya sendiri masih penasaran kira-kira apa saja yang pernah direkam RRI ketika masih menggunakan label Indravox. Tanggal 6 Juli 2010, saya mendatangi RRI Bandung, ketika itu diruang arsip rekaman saya tidak menemukan satupun piringan hitam berlabel Indravox, mungkin disimpan di suatu tempat khusus. Beberapa hari kemudian, saya menemukan informasi bahwa RRI Surakarta lebih tahu akan rekaman piringan hitam RRI. 'Yah', sampai sekarang saya belum sempat berkunjung ke RRI Surakarta, 'hehe'.




Benarkah ?
Saya menemukan beberapa situs di internet yang menawarkan download gratis lagu-lagu produksi Lokananta. Suatu sudut, disk yang dikomersilkan Lokananta--tidak terdapat keterangan transcription di dalamnya, karena memang untuk komersil. Saya pun tidak kaget akan fitur download gratis tersebut, yang membuat saya penasaran adalah ketika melihat ada beberapa lagu Lokananta untuk di-download dengan keterangan disk “Transcription Service Radio Republik Indonesia”. Tanda tersebut untuk menjelaskan bahwa piringan-piringan hitam tersebut hanya digunakan untuk transkripsi, bukan untuk komersil atau dijual-belikan. Jadi, darimanakah mereka mendapatkan piringan-piringan hitam Lokananta yang khusus digunakan untuk transkripsi atau kepentingan siaran radio RRI ketika itu?
Hal yang sama dengan di atas adalah adanya koleksi piring hitam berlabel Indravox di Belanda. Salah satu art-work pada piringan hitam berlabel Indravox terdapat keterangan not for sale. Saya rasa bukan hanya di Belanda saja. Jadi, mengapa kepingan-kepingan not for sale tersebut bisa menyebar?
Hal lainnya adalah isu (saya tidak bisa bisa menyebutkan sumbernya) tentang perekaman lagu daerah ataupun musik tradisi sekitar tahun 1970 dan 1980-an di beberapa wilayah Indonesia yang dilakukan oleh beberapa ‘orang luar’ dan saya setengah yakin RRI maupun Lokananta tidak mengetahui tentang hal ini. RRI dan Lokananta ditahun-tahun tersebut masih memiliki salah satu beban yakni suatu upaya menjaga dan melestarikan musik tradisi. Jadi, mereka (orang luar) mengajak masyarakat di beberapa daerah pedalaman Indonesia agar memainkan musik tradisi daerahnya yang kemudian direkam dan mereka pun hanya diberi bayaran yang sangat sedikit. Saya tidak tahu apakah hal ini termasuk kegiatan yang tidak baik atau sah-sah saja dan saya tidak tahu apa tujuan mereka sebenarnya? Akan tetapi, bukankah musik tradisi merupakan aset negara? Tapi, 'yah' namanya juga isu, tidak usah dianggap serius, 'hehe'.
http://ilyas-agusta.blogspot.com/2013/10/apa-itu-musik-indonesia.html

Tuesday, September 13, 2011

Lokananta


Sekilas Tentang LOKANANTA 1956-1972
               

Dalam konteks budaya, lagu-lagu nasional dan daerah merupakan aset daerah dan negara. Pada tahun 1950-an, Pemerintah Indonesia mengabadikan lagu-lagu tersebut melalui media rekaman yaitu piringan hitam. Perusahaan milik pemerintah yang memproduksi rekaman piringan hitam tersebut adalah Lokananta di Surakarta.
Sebenarnya Lokananta adalah nama yang lebih akrab pada masa piringan hitam (1950-1970-an). Perusahaan piringan hitam yang juga sebagai label rekaman ini banyak melahirkan musisi-musisi legendaris Indonesia yang terkenal, seperti Zaenal Arifin, Gesang, Bing Slamet, Titiek Puspa, Waldjinah, Sam Saimun, Nina Kirana, Masnun, dan Theresa Zen. Selain itu, banyak tokoh maupun musisi pentatonis yang besar namanya di Lokananta, seperti Tuty Daulay, Lily Suheiry, Titim Fatimah, Upit Sarimanah, R. Ng. Tjokrowasito, Ki Nartosabdho, dan Mang Koko. Berikut adalah sekilas tentang keberadaan Lokananta ketika memproduksi rekaman piringan hitam.


Keterangan: Bangunan di lihat dari tengah-belakang, keterangan dari beberapa karyawan Lokananta  menyebutkan rupa pendopo tersebut tidak berubah sejak tahun 1956 dan terkadang digunakan untuk kesenian klenengan (gending), kemudian yang dilingkari adalah gedung yang sering digunakan untuk kesenian dan rekaman suara; sekarang (2011) tidak difungsikan.


Pabrik Piringan Hitam Lokananta
Direktur Jenderal RRI Jakarta R. Maladi beserta Kepala Studio RRI Surakarta R. Oetojo Soemowidjojo, dan Kepala Teknik Produksi RRI Surakarta R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero pada tahun 1950 memiliki rencana untuk memenuhi kebutuhan siaran radio dengan mendirikan pabrik piringan hitam. Ide tersebut muncul terkait dari perbincangan mengenai masalah teknik siaran RRI dalam konferensi RRI, khususnya mengenai kebutuhan setiap studio RRI terhadap kelengkapan piringan hitam.
Empat tahun kemudian, pabrik piringan hitam akhirnya dibangun di Surakarta di atas tanah seluas 2,5 ha, dengan peletakan batu pertama pada tanggal 3 Juli. Alasan R. Maladi memilih Surakarta karena ketika itu Surakarta dikenal dengan nama Surakarta Hadiningrat sebagai salah satu kota sumber kebudayaan Jawa yang dianggap dapat menunjang kebudayaan nasional menurut pemerintah. Terdapat pula pusat kebudayaan Jawa yang masih hidup di Surakarta yaitu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Istana (Pura) Mangkunegaran (Muhadi ; Suwarto, 2001). Sehubungan itu, tujuan dibangunnya pabrik piringan hitam di Surakarta adalah: (a) membangun diskotik studio RRI yang baik dan untuk memenuhi kebutuhan akan kelengkapan piringan hitam; (b) memperkembangkan kebudayaan nasional dalam bidang musik; (c) memperkenalkan dan mempopulerkan lagu-lagu dari seluruh Indonesia agar saling mengenal kesenian antardaerah (Selecta, 1961, No. 119:16). Setahun kemudian, dibuat tempat cetakan pertama dan kemudian mencetak piringan hitam pertama. Pada bulan Desember, sudah berhasil mencetak piringan hitam yang sempurna sebagai piringan hitam diskotik dengan label 'Indra-vox'.
R. Maladi bersama yang lainnya sepakat untuk menamakan pabrik tersebut dengan nama Lokananta. Nama Lokananta dipilih berdasarkan legenda di masyarakat Jawa yang berasal dari kisah pewayangan yang menurut legenda adalah nama seperangkat alat gamelan yang hanya ada di Kahyangan istana para dewa dan disebut Suralaya, gamelan tersebut diciptakan oleh Dewa Bathara Guru, dan gamelan tersebut dapat berbunyi melantunkan nada-nada indah dengan suara merdu, sekalipun tanpa penabuh atau tanpa ditabuh.
Tahun 1956, R. Maladi mengusulkan kepada Presiden Soekarno tentang peresmian pabrik piringan hitam. Usulannya pun diterima olehnya. Kemudian, tanggal 29 Oktober tepatnya jam 10.00 WITA, pabrik piringan hitam di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 379 Surakarta diresmikan oleh Menteri Penerangan Republik Indonesia Soedibyo dengan nama "Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementerian Penerangan Republik Indonesia". Ketika itu, R. Oetojo Soemowidjojo dipilih sebagai Direktur Lokananta sementara itu R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero sebagai kepala bagian teknik Lokananta.
Pabrik piringan hitam Lokananta berdiri di bawah Departemen Penerangan dengan status Dinas Transkripsi sebagai Unit Pelaksana Teknik Jawatan RRI, dengan tugas utama yaitu memproduksi dan menggandakan (duplikasi) piringan hitam yang kemudian disebarkan untuk bahan siaran 27 studio RRI seluruh Indonesia sebagai Transcription Service (non komersial). Berhubungan dengan itu semua, berdirinya pabrik piringan hitam adalah salah satu langkah yang cukup berani, hal tersebut tampak dalam pernyataan R. Oetojo Soemowidjojo:

“...Hanja dengan modal keberanian jang memungkinkan pabrik ini berdiri. Tjobalah sdr. perhatikan, pekerdjaan ini sebelumnja tidak kami kenal, djadi merupakan sesuatu jang baru samasekali. Instalasi-instalasi diselenggarakan oleh tenaga-tenaga sendiri dengan beladjar dari buku-buku. Tak seorangpun jang pernah beladjar di Luar Negeri.”
(Dharma, 1961:16).

Secara garis besar, ada dua jenis kelompok musik yang diproduksi oleh Lokananta yaitu musik nasional dan musik daerah (pentatonis maupun diatonis). Pada sisi lain, musik nasional terus diperdebatkan identitasnya oleh beberapa pihak di bidang musik.                                                                                                                                          Memasuki tahun 1958, Lokananta melakukan perubahan nama label dengan istilah penggantian, maksudnya piringan hitam yang diproduksi sudah tidak memakai label Indra-vox (label awal yang digunakan RRI) tetapi sudah menggunakan cap dengan nama sendiri, yaitu label Lokananta (Yampolsky, 1987:1). Philip Yampolsky juga menjelaskan bahwa kedua-duanya (label) dikendalikan oleh RRI dan secara administratif terpisah.
Awalnya rekaman piringan hitam hanya diedarkan untuk bahan siaran RRI, kemudian mulai tanggal 14 April 1958 Lokananta mencoba mengedarkannya kepada umum. Lalu, berdasarkan Keputusan Menteri Penerangan RI mulai 1 April 1959 piringan hitam dengan label Lokananta akhirnya benar-benar dijual untuk umum. Pemasaran disalurkan melalui Pusat Koperasi Angkasawan RRI Jakarta, didistribusikan ke seluruh Koperasi Angkasawan Studio di Indonesia. Hingga pertengahan 1961, musik yang dipopulerkan oleh Lokananta antara lain yaitu lagu perjuangan, keroncong, hiburan (umum), seriosa, klasik (instrumen), dan lagu-lagu daerah dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Flores.

Keterangan: Gambar nomor satu adalah Direktur P.N. Lokananta Utojo Sumowidjojo berdiri diantara matrys dan piringan-piringan hitam pertama yang dihasilkan Lokananta, gambar kedua adalah R. Ngabehi Soegoto Soerjodipoero tengah meneliti pita-pita suara yang siap dijadikan piringan hitam.

Rekaman Kenegaraan
Beberapa peristiwa kenegaraan berhasil diabadikan melalui rekaman piringan hitam. Rekaman-rekaman tersebut sempat disimpan di Lokananta, diantaranya: rekaman pidato Presiden Soekarno saat pembukaan KTT Nonblok Pertama pada tahun 1955 di Bandung; rekaman Pidato Presiden Rajendra Pasad (India) pada tanggal 18 Desember 1958 dalam pertemuan di Istana Merdeka; rekaman pidato singkat Presiden Joseph Broz Tito pada tanggal 23 Desember 1958 ketika datang di Pelabuhan Tanjung Priok; rekaman pembicaraan Presiden Soekarno dan Presiden Vietnam Ho Chi Minh pada tanggal 8 Maret 1959 di Bandara Kemayoran sebelum meninggalkan Indonesia; dan rekaman pidato Presiden Soekarno dalam Pembukaan Pertemuan Solidaritas Bangsa Asia-Afrika pada 10 April 1961.


Keterangan: Cover PH: Sovenir Asian Games, 1962: Sisi I







Keterangan: Cover PH: Rekaman Pidato Kenegaraan Presiden RI Soekarno, 1963
(Pembukaan Konperensi I Asia-Afrika, 24 April 1963)
Pidato-pidato kenegaraan maupun dialog-dialog dari tamu-tamu negara tersebut adalah hasil liputan dan bahan-bahan siaran RRI yang direkam dan diberikan ke Lokananta untuk digandakan serta didokumentasikan sebagai bukti sejarah. RRI sendiri tidak merekam setiap peristiwa penting seperti pidato-pidato kenegaraan, hanya beberapa saja yang direkam dan diberikan kepada pihak Lokananta (Wawancara dengan Sekretaris Perum PNRI Lokananta Titi Sugiarti, 4 Januari 2010).

Keterangan: Salah satu pemilik rekaman awal lagu Indonesia Raja adalah Yo Kim Tjan, liriknya pun sempat dipublikasikan oleh majalah Sinpo tahun 1928. Lagu Indonesia Raya ini adalah hasil tambahan (gubahan) pada aransemen sekitar tahun 1950-an oleh komposer Jos Cleber asal Belanda, atas permintaan (instruksi) dari Presiden Indonesia Soekarno, tapi tidak mengubah lirik aslinya (WR. Supratman) yang mana sebelumnya sempat diubah oleh Jepang (nippon) ketika menduduki Indonesia. Ketika itu, lagu ini kemudian diabadikan kedalam piringan hitam yang dicetak oleh perusahaan (pabrik) piringan hitam Lokananta. Selain itu Soekarno juga membuat rencana undang-undang tentang lagu kebangsaan Indonesia.

Seri dan Format Piringan Hitam
Seri piringan hitam yang pernah digunakan oleh Lokananta antara lain: seri AIH, AIN, & AD dengan format 10”, 78 rpm; seri ALD, ARD, ARI, & DN dengan format 10”, 33 1/3 (24 menit); seri CRE dengan format 7”, 33 1/3 (12 menit); dan seri BRD, BRI dengan format 12”, 33 1/3 (48 menit).                                                                                        Format yang paling banyak digunakan oleh Lokananta adalah seri ARI dengan format 10”, 33 1/3 dengan menggunakan dua side atau lebih (Yampolsky, 1987: 57-90). Maksud dari ukuran rpm (rotation per minute) piringan hitam tersebut adalah setiap menit piringan hitam berputar sebanyak angka yang menjadi ukuranya dan semakin besar diameter platnya, semakin kecil ukuran untuk memutarnya. Berikut adalah contoh PH format 45 rpm, 78 rpm, dan 33 1/3 rpm:
Keterangan : contoh format 78 rpm
Keterangan : Contoh format 45 rpm dan 33 1/3 rpm (Long Play)


PN Lokananta
Menyangkut potensi piringan hitam yang komersil, berdasarkan PP No. 215 tahun 1961 status Lokananta berubah menjadi "Perusahaan Negara Lokananta" (PN Lokananta). Sehubungan dengan itu, status Lokananta sebagai Teknik Jawatan RRI ikut dilepaskan.
Dalam sebuah sudut pandang, pada masa-masa tersebut musik yang diproduksi Lokananta telah diarahkan untuk kepentingan politik negara. Ada tiga tanggung jawab yang dibebankan Lokananta berdasarkan PP No. 215 Tahun 1961 adalah: untuk mendorong, melestarikan, dan menyebarkan seni nasional; bekerjasama dengan pemerintah luar dalam bidang musik, khususnya terkait dalam hal rekaman; dan juga untuk menghasilkan pendapatan bagi negara. Pendapatan atau devisa negara bisa dihasilkan melalui ekspor--sebagian dari produksi piringan hitam (Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 2300, 1961 ; Muhadi, 2005? ).
Sejak tahun 1961 sampai 1971, Lokananta berusaha menambah jenis produksi musik nasional, diantaranya adalah lagu kanak-kanak, pengajian Al-Qur’an, lagu gereja, melayu (hiburan), gambus, dan pop Indonesia. Sementara itu dalam produksi musik daerah, jenis klenengan (Jateng dan Jatim) dan langgam Jawa tampak mendominasi produksi, sedangkan sisanya diisi oleh rekaman musik Sunda dan Bali.
Tercatat sudah ribuan lagu yang diproduksi oleh Lokananta, yang mana master rekaman sebagian besar berasal dari stasiun-stasiun RRI yang dibawa ke Lokananta untuk digandakan. Adapun daerah-daerah yang sering dijadikan sebagai tempat berlangsungnya rekaman antara lain: Jakarta, Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Denpasar, dan Bukit Tinggi.
        Pada tahun 1960-an, Lokananta membangun studio sendiri untuk suatu proses rekaman. Tabel berikut adalah beberapa album rekaman yang secara langsung prosesnya dilakukan di studio Lokananta, Surakarta:

Rekaman di Studio Lokananta
(1964-1971)
Rekaman
Nama
Genre
Tahun 1964
22 Maret (3 lagu)
2 April (4 lagu)
3 April (3 lagu)
Band Remadja Bahana
dbp. M. Busthanim
voc: Trio (Matheus Waso Dako, Moh. Darsono, dan  Bob Marthan Waso Dako)
Hiburan
Tahun 1964
27-29 Mei (+)
30 Mei (5 lagu)
31 Mei (3 lagu)
Orkes Krontjong All Electric Jus Mardiat Dkk.
voc: Dewi, Hadi Djokosuwarno, Ismanto, Leby, dan Suprapti

Langgam Keroncong (K.Baru)
Tahun 1964
16 Juni (+)
18,19 Juni (6 lagu)
23 Juni (1 lagu)
26 Juni (1 lagu)
Band Jusapan K
voc: Harijadi Sadono dan Tenny Gabeler
Hiburan
Tahun 1965
14,15,18 Jan (+)
19 Jan (3 lagu)
20,21 Jan (5 lagu)
21 Jan (1 lagu)
Irama Krontjong Jusapan K. Dkk
voc: Djum, Leby, dan Walujo


Keroncong
Tahun 1965
5 Juli (+)
6 Juli (2 lagu)
7 Juli (4 lagu)
8 Juli (2 lagu)
Orkes Krontjong Tjendrawasih
dbp. S. Padimin
voc:  A. M. Jahja, Kustiati, M. S. Hudi, Sutjiati, dan Supardi Achijat
Keroncong dan Stambul
Tahun 1966
15 Februari (4 lagu)
16 Februari (4 lagu)
Orkes Krontjong Tjempaka Putih
dbp. Slameto
vokal: Ratmanto, S. Bekti, dan Waldjinah
Langgam Jawa
Tahun 1967
19 Jan (?) (2 lagu)
20 Jan (?) (2 lagu)
21 Jan (?) (2 lagu)
23 Jan (?) (2 lagu)
Band Hasta Nada Kodamar VIII
dbp. Hasta Tunggal
voc: Christine
Hiburan
Tahun 1967
24 Mei (4 lagu)

Orkes Krontjong Bintang
dbp. Waldjinah Budi
vokal: S. Bekti, S. Harti, dan Waldjinah
Langgam Jawa
Tahun 1967
19 November
(1 lagu*)
A. Hapip Maksum
voc: A. Hapip Maksum
Pengajian
Tahun 1968
12 Februari (1 lagu*)
13 Februari (4 lagu*)
14 Februari (1 lagu*)
H. Abdul Aziez Muslim
voc: H. Abdul Aziez Muslim
Pengajian
Tahun 1968
26 Maret (3 lagu*)
27 Maret (1 lagu*)
28 Maret (1 lagu*)
Sjamsuri Arsad & Ustadz Gazali Rahman
voc: Sjamsuri Arsad & Ustadz Gazali Rahman
Pengajian
Tahun 1968
17 Juni (1 lagu)
18 Juni (3 lagu)
19 Juni (2 lagu)
Orkes Krontjong Bintang
dbp. Budi Sajuti
vokal: Waldjinah
Langgam Jawa
Tahun 1969
23 Maret (musiktrack)
30,31 Maret (5 lagu)
1 April (3 lagu)
Zaenal Combo
dbp. Zaenal Arifin
voc: Jetti dan Roosdiana
Melayu
Tahun 1970
7 Januari (4 lagu)
8 Januari (3 lagu)
Orkes Krontjong Bintang Surakarta
dbp. Waldjinah Budi
vokal: Waldjinah
Langgam Jawa
Tahun 1970
6 Mei (3 lagu)
7 Mei (6 lagu)
8 Mei (6 lagu)
Orkes Bintang Surakarta
dbp. Waldjinah Budi
vokal: Waldjinah
Langgam Jawa
Tahun 1970
16,17 Okt (+)
18 Oktober (2 lagu)
19 Oktober (3 lagu)
20 Oktober (3 lagu)
Orkes Pengabdian
dbp. Alwi Hasan
voc: Achmad Vad’aq, Alwi Hasan, Djunaidah Sjafi’i, Juliatin, Musjrifah Thohir, M. Mahdi Hasan, dan Nur Mushobbichah
Melayu
Tahun 1970
21 Oktober (1 lagu)
24 Oktober (2 lagu)
25 Oktober (3 lagu)
26 Oktober (2 lagu)
Orkes El-Badr
dbp. Achmad Vad’aq
voc: Achmad Vad’aq, Latifah Achmad, Musjrifah Thohir, dan Waidah Achmad
Gambus
Tahun 1971
27 Januari (12 lagu)
28 Januari (9 lagu)
29 Januari (3 lagu)
Band Borobudur
dbp. Yessy Wenas
voc: Ida Royani, Jan Surjani, Mimiek, Mus (Mus K..Wirja?), Sylvia K, Nanny Triana, Nidya Bersaudara, Nunieng, dan Onny Surjono
Pop Indonesia
Sumber: Diolah dari Yampolsky, 1987:104-150
Keterangan: - dbp. (di bawah pimpinan)
                       - voc (penyanyi)
                       - (+) (rehearsal)
                       - lagu* (surat dalam kitab Al-Qur’an)



Menurut analisis saya, Lokananta dalam perkembangan musik daerah secara tidak langsung mendukung ide-ide baru dari beberapa tokoh musik pentatonis, khususnya corak musik tradisional Jawa yang lebih banyak diproduksi. Beberapa corak musik dengan eksperimental, banyaknya jumlah lagu, serta banyaknya jenis musik yang dipopulerkan oleh Lokananta melalui media rekaman piringan hitam, memberi banyak sumbangan terhadap permasalahan apresiasi pencarian bentuk awal representasi musik Indonesia. Seperti yang ditegaskan oleh Direktur Lokananta R. Oetojo Soemowidjojo di majalah Selecta (1961, No. 119:16): “...Peredaran tidak semata-mata didjual untuk mentjari keuntungan (Dharma, 1961:16).
Alasan didominasi oleh musik tradisional Jawa karena faktor geografis. Kesan tersebut menjadikan banyaknya publik penggemar berasal dari masyarakat sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bila dicermati, pada dasarnya suatu perusahaan memiliki tujuan untuk mencari suatu keuntungan. Saya mengamati bahwa ketika itu Lokananta telah melakukan upaya untuk banyak memproduksi musik tradisional luar Jawa, akan tetapi masalah finansial yang kurang mendukung penuh upaya tersebut serta menjadi alasan dari semua ini. Sehubungan hasil pengamatan, saya tidak bisa menyimpulkan sepenuhnya alasan tersebut, karena pasti ada alasan kuat lainnya mengapa Lokananta lebih banyak memproduksi musik daerah Jawa.
Maraknya industri rekaman dengan kaset membuat Lokananta kesulitan mengembangkan hasil produksinya. Tanggal 12 November 1971, Lokananta memperluas bidang usahanya dengan produksi rekaman kaset. Kemudian, tanggal 13 November 1972 pemerintah mengeluarkan izin resmi produksi dan peredaran kaset Lokananta yaitu Keputusan Menteri Penerangan R.I. No. 105/Kep/Menpen/1972. Dengan itu, Lokananta tidak lagi memproduksi piringan hitam yang digantikan dengan produksi rekaman kaset.

Keterangan : Beberapa contoh 'Art-Cover' piringan hitam milik Lokananta

Sekilas Tentang Lokananta sejak 1972-2011
           Sejak 1972 banyak rekaman piringan hitam yang kemudian dipindahkan ke bentuk kaset. Pada masa kaset, rekaman terus dilakukan meskipun secara garis besar didominasi oleh produksi musik hiburan daerah Jawa.
Tahun 1983, status Lokananta berubah menjadi BUMN di lingkungan Departemen Penerangan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 13 tahun 1983 Lokananata mendapat hak penggandaan kaset-kaset video bersama TVRI dan PPFN. Lokananta juga mendapat izin untuk memasarkan kaset video, menjalin kerjasama dengan PT Eka Cipta Disc, melayani penggandaan video kaset karaoke, dan berupaya memproduksi compact disc.
         Persaingan antarlabel meramaikan industri musik Indonesia. Pada sisi lain, kaset bajakan makin banyak dan diminati banyak orang. Sehubungan itu, Lokananta tidak mampu menahan serbuan kaset bajakan di pasaran. Sebab itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2001, [PN] Lokananta dilikuidasi dan ditetapkan sebagai Penambahan Penyertaan Modal Perum PNRI, maka sejak tahun 2004 Lokananta menjadi Perum PNRI Cabang Surakarta dengan cakupan tugas sebagai salah satu pusat multimedia; rekaman CD; remastering; pengembangan percetakan serta jasa grafika; dan juga  kegiatan di dunia penyiaran (broadcasting). Sampai sekarang (2011) pihak Lokananta sedang berupaya untuk men-digital-kan rekaman-rekaman berbentuk piringan hitam dan kaset ke dalam bentuk VCD (mp3). Puluhan ribu master rekaman piringan hitam masih disimpan di Lokananta.


Album Entit (Waldjinah) dalam tiga masa
                 

Catatan: Untuk album jenis piringan hitam, saya tidak mengetahui pasti kapan album dengan seri BRI 014 tersebut diproduksi pertama kali, tetapi hasil olahan saya dari katalog rekaman Lokananta yang dibuat Yampolsky (1987: 176) lagu-lagu yang ada pada album “Entit” adalah kumpulan dari tiga album rekaman milik Orkes Bintang Surakarta di bawah pimpinan Waldjinah, yaitu rekaman Oktober 1970, Juni 1971, dan Juli 1971. 

Studio Lokananta (dibangun pada masa Orba)

  


Museum Digital Lokananta


Tempat Penyimpanan Piringan Hitam



*Sumber Tulisan : 
Agusta, Ilyas. 2011. Lokananta Vinyl Record: Its Influences Towards the Development of Indonesian Music, 1956-1972. Jatinangor.
http://ilyas-agusta.blogspot.com/2011/09/lokananta.html
http://ilyas-agusta.blogspot.com/2013/10/indravox.html

tml